Malang, 5 Februari 2026 – Pusat Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (PPMPP) bersama tim akademik Sekolah Tinggi Multi Media “STMM” Yogyakarta melaksanakan kegiatan benchmarking implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE) ke Universitas Brawijaya. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat DIPP, Gedung Layanan Bersama ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman serta mengadopsi praktik baik penerapan OBE yang telah berjalan secara sistematis di Universitas Brawijaya.
Dalam pemaparannya, Direktorat Inovasi dan Pengembangan Pendidikan (DIPP) Universitas Brawijaya menjelaskan bahwa implementasi OBE telah berjalan selama 4–5 tahun, didorong oleh kebutuhan akreditasi internasional seperti ASIIN dan IABI. OBE di Universitas Brawijaya dikembangkan sebagai sistem pembelajaran yang terukur, dengan menitikberatkan pada ketercapaian capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang diturunkan ke dalam CPMK dan sub-CPMK pada setiap mata kuliah.
Penerapan OBE didukung oleh sistem informasi terintegrasi yang memungkinkan seluruh data pembelajaran dan penilaian dapat ditelusuri hingga ke CPL. Selain itu, dilakukan monitoring dan evaluasi (monev) secara berkala untuk seluruh program studi, termasuk melalui pengisian logbook perkuliahan oleh dosen guna memastikan kesesuaian antara pelaksanaan pembelajaran dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
Universitas Brawijaya juga menekankan tiga pilar utama dalam implementasi OBE, yaitu Outcome-Based Learning Curriculum (OBLC) yang memastikan kesesuaian kurikulum dengan capaian pembelajaran, Outcome-Based Learning yang berfokus pada pelaksanaan pembelajaran sesuai RPS, serta Outcome-Based Assessment and Evaluation (OBAE) yang diwujudkan melalui penyusunan portofolio mata kuliah sebagai dasar evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Setiap mata kuliah memiliki satu portofolio yang diisi oleh dosen pengampu sebagai bagian dari proses refleksi dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Dalam diskusi, disampaikan bahwa OBE tidak selalu identik dengan penerapan project-based learning atau case-based learning pada semua mata kuliah, khususnya untuk mata kuliah teori. OBE lebih menekankan pada keterukuran capaian pembelajaran, sehingga asesmen harus dirancang sesuai dengan CPMK yang ditetapkan. Bahkan, soal UTS dan UAS diwajibkan melalui proses verifikasi oleh unit penjaminan mutu untuk memastikan kesesuaian dengan capaian pembelajaran.
Selain itu, Universitas Brawijaya juga mengintegrasikan hasil capaian pembelajaran ke dalam dokumen kelulusan mahasiswa, serta mendorong keterlibatan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dalam penyusunan kurikulum, khususnya pada pendidikan vokasi. Berbagai tantangan dalam implementasi OBE juga diidentifikasi, seperti kesenjangan pemahaman antar dosen dan perbedaan penggunaan template, yang diatasi melalui penguatan koordinasi dan peran kelompok bidang ilmu dalam monitoring pembelajaran.

Melalui kegiatan benchmarking ini, STMM Yogyakarta memperoleh wawasan komprehensif mengenai implementasi OBE yang terstruktur dan terintegrasi dengan sistem penjaminan mutu. Hasil studi tiru ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan kurikulum yang lebih terukur, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus mendukung peningkatan kualitas lulusan secara berkelanjutan.


